Total Tayangan Halaman

Jumat, 11 September 2015

Catatan Akhir Sekolah

Jika saja perpisahan dan waktu adalah benang-benang tipis
Sudah pasti langsungku tepis
Agar mereka tak pernah membuat hati kita teriris
Agar kita semua tak menangis saat perpisahan kian di ujung kisah putih abu



Andai bisa
Aku ingin kembali pada tiga tahun silam
Meratap penuh harap agar masa indah ini tak pernah suram
Hingga rasa riang memupuskan rasa haru perpisahan
Layaknya anak kecil berlarian saat hujan
Menari berkecipak-kecipuk di atas tanah-tanah basah
Tertawa di guyur bola-bola hujan
Lantas ambruk di bawa genangan



Seperti embun yang menggantung di ujung daun
Seperti nuri berkicau tak henti, menjelma simfoni paling ritmis
Atau seperti hembus angin yang memasuki kisi-kisi jendela, bersemilir bersama aroma bahagia
Aku memaknai keindahan kalian seperti itu

Saat kebahagiaan kian merajai hari-hari
Perpisahan datang merobohkan kembali kebahagiaan yang tersusun apik dalam satu ruangan kelas
Ada kenangan haru serta seru di tiap sudutnya
Pondasi yang menyaksikan langsung tiga puluh dua kepala bertautan mencari jati diri
Meja yang menjadi saksi tindisan tangan-tangan calon penegak bangsa


Saat perpisahan benar-benar hadir
Hingga lisan terlampau kelu untuk mengucap keluh
Sekuat apapun aku berusaha, kebersamaan tak benar-benar mampu mentiadakan perpisahan


Perpisahan adalah skenario paling buruk
Maka inilah yang aku lakukan sekarang
Menuliskan setiap ratap kenestapaan dalam menghadapi perpisahan
Hingga pada akhirnya aku sampai pada sebuah titik kesimpulan
Bahwa ikhlas adalah sebaik-baiknya obat perpisahan




  --Ahran--