Sore
cerah, tak terasa senja makin tenggelam di ufuk barat, garis-garis magenta
terbias di antara langit jingga berpadu biru, serta di tingkahi hembusan angin
memainkan setiap helai rambut menutupi dahi. Hening seketika pecah saat suara
sendumu memulai perbincangan
“Bagaimana jika kita tidak bisa terus bersama Rey?” Tanyamu dengan
sendu
“Tak perlu membicarakan hal yang tak ada Nai” Balasku dengan lembut
“Iya. Tapi seandainya?”
“Jangan terlalu berandai-andai Nai, Tak baik untuk kewarasanmu”
“Aku serius Rey”
“Akupun serius Naila”
“Jika hal itu benar-benar tejadi apa yang kau lakukan? Tanyamu dengan penuh kecemasan
“Entahlah, berhentilah berjika-jika. Aku mencintaimu, sesederhana itu. Aku
ibarat senja itu, datang sesekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia, tak
pernah lupa untuk kembali meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari”
Ucapku getir.
Kamu tersenyum kemudian merebahkan kepalamu di pundakku.
Sejenak terdiam. Terbangun dari lamunan, kita masih duduk terdiam mendekap
lutut, sambil menikmati setiap setiap detik waktu dalam menghantarkan matahari
terbenam (di pantai itu).
“Kau tahu Nai? Tak mudah bagi
laki-laki setampan aku mengeluarkan rayuan seperti itu pada wanita yang ku
cintai. Mau simpan dimana harga diri laki-laki tampan lainnya, hahaha” Kataku mencoba menggurauimu. Seketika reaksi
wajahmu yang tirus begitu merah padam, di hiasi dengan lengkung senyum yang tak
ku tahu apa artinya. Lalu dengan gemas kamu cubit pinggang kananku, seperti tak
puas, kamu lanjutkan lagi cubitanmu di pinggang kiriku
Aku tak bisa apa-apa selain
tertawa dan merintih kesakitan, selalu saja itu menjadi senjata pamungkas saat
kamu tak mampu lagi berkutik dengan ketidak warasanku berkata.
Purnama
kian nampak dengan rona merahnya, makin larut makin tenggelam dengan tingkah
lakumu, menahanku untuk kembali pulang. Lampu-lampu nelayan mencari ikan
menghiasi sejejeran ombak menghantam karang.
Dengan alis bertautan kemudian
kamu bertanya
“Mampukah kamu setangguh karang itu Rey? Diterjang ombak dengan berbagai macam
bentuk tapi ia tak ingin ke lain tempat sekeras apapun terjangan ombak, ia
tetap tangguh di tempatnya”
Entah kalimat tanya atau kalimat
ejekan yang kamu lontarkan padaku saat itu.
“Aku tak setangguh itu Naila.
Tapi yang harus kamu tau, aku mencintaimu lebih banyak dari debar, lebih besar
dari sabar, dan lebih lama dari selamanya” Dengan gagahnya aku menjawab itu.
Kamu kembali tersipu malu,
lagi-lagi tak berkutik olehku. Lalu terdiam melamun di sebuah bangku panjang di
tepian pantai. Dengan kaki yang tak bosan menendang-nendang pasir putih.
Pandangan matamu terfokus pada satu titik di ujung lautan. Entah apa yang
terlihat. Mungin perahu-perahu nelayan yang melaut, atau burung-burung yang
beterbangan membelah cakrawala atau sekedar tatapan kosong dengan pikiran
melayang kemana-mana. Entahlah.
Sesaat seketika pikiranmu kembali
pada titik awal perbincangan
“Aku
takut kita berpisah, Rey” Ucapmu
dengan raut wajah nampak manyun
“Kau menciptakan rasa takutmu sendiri” Balasku
“Aku tak ingin kita saling
membenci pada akhirnya” Nada suaramu mulai lesu
“Begini Naila, kita tak
akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok, lusa, dan seterusnya. Yang
bisa kita lakukan hanyalah menjaga apa yang kita miliki sekarang. Hingga apapun
yang kita lakukan adalah bentuk upaya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.
Baik-baiklah dengan perasaanmu. Semoga kita tidak sedang berjudi saat mencoba
peruntungan tentang permasalahan hati”
“Aku selalu memikirkan pertanyaan ini, setiap kali aku merasa bahagia
saat bersamamu”
“Ya sudah, berhentilah memikirkan hal yang membuatmu takut. Fokus saja
pada hal yang membahagiakanmu”
“Aku takut tak siap menghadapi kehilangan”
“Bee.. Kau bicara apa, sih? Bahkan saat ini kau sedang bersamaku. Menikmati
waktu berdua. Bersama-sama”
“Sebab itulah aku takut. Aku bahagia bila terus bersamamu. Aku tak ingin
kehilanganmu”
“Aku tak bisa menjanjikan akan selalu ada. Tapi ini yang bisa aku
sampaikan, aku mencintaimu dengan sungguh. Maka aku akan selalu berupaya untuk
menjaga cinta yang ada di antara kita. Mengemasnya dengan baik setiap hari,
agar aku bisa mencintaimu lagi dan lagi. Sebab aku tak selalu bisa membuatmu
bahagia, perkenankan aku untuk selalu menemanimu bagaimanapun keadaannya”
“Reyhan”
“Ya?”
“Jangan pergi, ya”
“Hei... Aku tak pergi ke mana-mana. Aku di sini. Di sampingmu. Menjaga
kamu”
“Tapi, Rey”
“Berhentilah bertapi-tapi. Jalani semuanya dengan sederhana. Enyahkan keraguanmu.
Nikmati apa yang kita jalani kini. Tak perlu mempermasalahkan apa yang akan
terjadi nanti. Ketakutanmu justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Mulailah
untuk mencintaiku tanpa berjika-jika. Dan aku akan selalu mencintaimu tanpa
tapi. Sebab yang kita lakukan adalah di waktu sekarang. Bukan nanti."
"Entahlah, Rey. Hanya saja..."
“Sudahlah Nai, diam saja, tak
baik memikirkan hal seperti itu”
Sungguh, membuatmu diam jauh
lebih baik dari pada harus memperdebatkan tentang perasaan. Terlebih pada hal
yang tak perlu di takutkan. Sudahlah, aku telah menjadikanmu sebagai rumahku Naila,
tempat aku pulang merebah lelah dan menceritakan kisah-kisahku di luar sana.
Sungguh kau perempuan yang ku sayangi dengan tulus dengan segenap ganjilnya aku
Teruntuk perempuan kesayangan,
Naila
--Ahran--
--Ahran--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama :
Email :