Total Tayangan Halaman

Kamis, 26 November 2015

Perdebatan Tentang Jika

Sore cerah, tak terasa senja makin tenggelam di ufuk barat, garis-garis magenta terbias di antara langit jingga berpadu biru, serta di tingkahi hembusan angin memainkan setiap helai rambut menutupi dahi. Hening seketika pecah saat suara sendumu memulai perbincangan
“Bagaimana jika kita tidak bisa terus bersama Rey?”  Tanyamu dengan sendu
Tak perlu membicarakan hal yang tak ada Nai”  Balasku dengan lembut
“Iya. Tapi seandainya?”
“Jangan terlalu berandai-andai Nai, Tak baik untuk kewarasanmu”
“Aku serius Rey”
“Akupun serius Naila”
“Jika hal itu benar-benar tejadi apa yang kau lakukan?  Tanyamu dengan penuh kecemasan
“Entahlah, berhentilah berjika-jika. Aku mencintaimu, sesederhana itu. Aku ibarat senja itu, datang sesekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia, tak pernah lupa untuk kembali meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari”             
Ucapku getir.
Kamu tersenyum kemudian merebahkan kepalamu di pundakku.

            Sejenak terdiam. Terbangun dari lamunan, kita masih duduk terdiam mendekap lutut, sambil menikmati setiap setiap detik waktu dalam menghantarkan matahari terbenam (di pantai itu).
“Kau tahu Nai? Tak mudah bagi laki-laki setampan aku mengeluarkan rayuan seperti itu pada wanita yang ku cintai. Mau simpan dimana harga diri laki-laki tampan lainnya, hahaha”  Kataku mencoba menggurauimu. Seketika reaksi wajahmu yang tirus begitu merah padam, di hiasi dengan lengkung senyum yang tak ku tahu apa artinya. Lalu dengan gemas kamu cubit pinggang kananku, seperti tak puas, kamu lanjutkan lagi cubitanmu di pinggang kiriku
Aku tak bisa apa-apa selain tertawa dan merintih kesakitan, selalu saja itu menjadi senjata pamungkas saat kamu tak mampu lagi berkutik dengan ketidak warasanku berkata.

            Purnama kian nampak dengan rona merahnya, makin larut makin tenggelam dengan tingkah lakumu, menahanku untuk kembali pulang. Lampu-lampu nelayan mencari ikan menghiasi sejejeran ombak menghantam karang.
Dengan alis bertautan kemudian kamu bertanya
“Mampukah kamu setangguh karang itu Rey? Diterjang ombak dengan berbagai macam bentuk tapi ia tak ingin ke lain tempat sekeras apapun terjangan ombak, ia tetap tangguh di tempatnya”
Entah kalimat tanya atau kalimat ejekan yang kamu lontarkan padaku saat itu.
“Aku tak setangguh itu Naila. Tapi yang harus kamu tau, aku mencintaimu lebih banyak dari debar, lebih besar dari sabar, dan lebih lama dari selamanya” Dengan gagahnya aku menjawab itu.
Kamu kembali tersipu malu, lagi-lagi tak berkutik olehku. Lalu terdiam melamun di sebuah bangku panjang di tepian pantai. Dengan kaki yang tak bosan menendang-nendang pasir putih. Pandangan matamu terfokus pada satu titik di ujung lautan. Entah apa yang terlihat. Mungin perahu-perahu nelayan yang melaut, atau burung-burung yang beterbangan membelah cakrawala atau sekedar tatapan kosong dengan pikiran melayang kemana-mana. Entahlah.


Sesaat seketika pikiranmu kembali pada titik awal perbincangan
Aku takut kita berpisah, Rey  Ucapmu dengan raut wajah nampak manyun
Kau menciptakan rasa takutmu sendiri” Balasku

“Aku tak ingin kita saling membenci pada akhirnya” Nada suaramu mulai lesu

“Begini Naila, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok, lusa, dan seterusnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga apa yang kita miliki sekarang. Hingga apapun yang kita lakukan adalah bentuk upaya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Baik-baiklah dengan perasaanmu. Semoga kita tidak sedang berjudi saat mencoba peruntungan tentang permasalahan hati”

Aku selalu memikirkan pertanyaan ini, setiap kali aku merasa bahagia saat bersamamu

Ya sudah, berhentilah memikirkan hal yang membuatmu takut. Fokus saja pada hal yang membahagiakanmu

Aku takut tak siap menghadapi kehilangan

Bee.. Kau bicara apa, sih? Bahkan saat ini kau sedang bersamaku. Menikmati waktu berdua. Bersama-sama

Sebab itulah aku takut. Aku bahagia bila terus bersamamu. Aku tak ingin kehilanganmu

Aku tak bisa menjanjikan akan selalu ada. Tapi ini yang bisa aku sampaikan, aku mencintaimu dengan sungguh. Maka aku akan selalu berupaya untuk menjaga cinta yang ada di antara kita. Mengemasnya dengan baik setiap hari, agar aku bisa mencintaimu lagi dan lagi. Sebab aku tak selalu bisa membuatmu bahagia, perkenankan aku untuk selalu menemanimu bagaimanapun keadaannya

Reyhan

Ya?

Jangan pergi, ya

Hei... Aku tak pergi ke mana-mana. Aku di sini. Di sampingmu. Menjaga kamu

Tapi, Rey

Berhentilah bertapi-tapi. Jalani semuanya dengan sederhana. Enyahkan keraguanmu. Nikmati apa yang kita jalani kini. Tak perlu mempermasalahkan apa yang akan terjadi nanti. Ketakutanmu justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Mulailah untuk mencintaiku tanpa berjika-jika. Dan aku akan selalu mencintaimu tanpa tapi. Sebab yang kita lakukan adalah di waktu sekarang. Bukan nanti."

"Entahlah, Rey. Hanya saja..."

“Sudahlah Nai, diam saja, tak baik memikirkan hal seperti itu”

Sungguh, membuatmu diam jauh lebih baik dari pada harus memperdebatkan tentang perasaan. Terlebih pada hal yang tak perlu di takutkan. Sudahlah, aku telah menjadikanmu sebagai rumahku Naila, tempat aku pulang merebah lelah dan menceritakan kisah-kisahku di luar sana. Sungguh kau perempuan yang ku sayangi dengan tulus dengan segenap ganjilnya aku

Teruntuk perempuan kesayangan, Naila

--Ahran--








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nama :
Email :