Total Tayangan Halaman

Kamis, 26 November 2015

Selamat Harimu, Guruku

Guruku...
Kini ingatanku kembali pada dua tahun silam
Menerawangi tiap goresan pena pada kertas putih
Masih ku ingat, saat pijakan pertama kami di sekolah ini
Senyum sumringah yang kau lontarkan kepada kami saat itu
Guruku..
Tak terasa masa putih abu kami kian di ujung setapak
Canda tawa, bahagia, sedih, kesal telah kami rasakan bersama
Terkadang kami merasa kesal ketika mendengar omelanmu
Tak jarang juga nasihat-nasihat luhurmu terabaikan oleh kami yang merasa angkuh
Tak pernah sadar tanpamu kami runtuh, dan karnamu kami utuh
Guruku..
Ada banyak hal yang membuat memori ingatanku tak luput darimu
Dan membuatku tak pernah mampu untuk membencimu
Untuk setiap bulir peluh yang jatuh
Untuk setiap nyala semangat yang kau percik dalam jiwa kami
Untuk setiap keteguhan yang kau ajarkan perlahan
Untuk setiap kesabaran yang kau tunjukan
Untuk setiap langkah kaki yang goyah menuju ruang kelas
Untuk setiap peluh yang tercurah
Setiap kata-kata yang terucap
Setiap kesetiaan senyummu meski mentari menyengat dan membakar kerongkonganmu

Kami tau...
Itu semua demi kebaikan kami
Guruku...
Maafkanlah ego kami yang bergejolak saat membantah semua katamu
Kami sadar guruku...
Tiada kata maaf yang mampu menghapus kesalahan kami
Tiada air mata yang mampu melelehkan keburukan kami
Namun kau tetap menerima kami layaknya darah dagingmu sendiri
Kami sadar...
Sering kali kami melukai hatimu dengan kasarnya kata yang keluar dari mulut kami
Namun kau tetap membalasnya dengan senyuman paling ritmis
Kami tau guruku...
Kemarahan yang kau lontarkan tak pernah bertahan lama
Kau akan merangkul kami lagi
Terlalu sulit jalan pikiranmu tuk kami pahami
Berjuta maklum yang kau lontarkan membuat kami tak tau diri
Terimakasih guruku..
Atas semua kokohnya hatimu melawan onak
Bagaikan embun penyejuk bagi kekerasan hati
Takan pernah ada penyair yang mampu menuliskan kebaikan dan jasamu atas pembentukan jati diri kami
Takan pernah ada pelukis yang mampu melukis semua kisah yang telah kau bagikan kepada kami
Bahkan takan ada ilmuan yang mempu menjelaskan kasih yang kau berikan kepada kami
Beribu terimakasih guruku atas turut andilmu dalam setiap kesuksesan kami kelak
Serta telah memberi kami berjuta pengalaman hidup dan berjuta ilmu pengetahuan
Terimakasih untukmu patriotisme pendidikan..
Terimakasih telah memenangkan kami dari perang kebodohan..
Selamat hari guru..
Mungkin tanpamu dunia menangis lara...



                                                                                                                                      --Ahran--

Perdebatan Tentang Jika

Sore cerah, tak terasa senja makin tenggelam di ufuk barat, garis-garis magenta terbias di antara langit jingga berpadu biru, serta di tingkahi hembusan angin memainkan setiap helai rambut menutupi dahi. Hening seketika pecah saat suara sendumu memulai perbincangan
“Bagaimana jika kita tidak bisa terus bersama Rey?”  Tanyamu dengan sendu
Tak perlu membicarakan hal yang tak ada Nai”  Balasku dengan lembut
“Iya. Tapi seandainya?”
“Jangan terlalu berandai-andai Nai, Tak baik untuk kewarasanmu”
“Aku serius Rey”
“Akupun serius Naila”
“Jika hal itu benar-benar tejadi apa yang kau lakukan?  Tanyamu dengan penuh kecemasan
“Entahlah, berhentilah berjika-jika. Aku mencintaimu, sesederhana itu. Aku ibarat senja itu, datang sesekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia, tak pernah lupa untuk kembali meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari”             
Ucapku getir.
Kamu tersenyum kemudian merebahkan kepalamu di pundakku.

            Sejenak terdiam. Terbangun dari lamunan, kita masih duduk terdiam mendekap lutut, sambil menikmati setiap setiap detik waktu dalam menghantarkan matahari terbenam (di pantai itu).
“Kau tahu Nai? Tak mudah bagi laki-laki setampan aku mengeluarkan rayuan seperti itu pada wanita yang ku cintai. Mau simpan dimana harga diri laki-laki tampan lainnya, hahaha”  Kataku mencoba menggurauimu. Seketika reaksi wajahmu yang tirus begitu merah padam, di hiasi dengan lengkung senyum yang tak ku tahu apa artinya. Lalu dengan gemas kamu cubit pinggang kananku, seperti tak puas, kamu lanjutkan lagi cubitanmu di pinggang kiriku
Aku tak bisa apa-apa selain tertawa dan merintih kesakitan, selalu saja itu menjadi senjata pamungkas saat kamu tak mampu lagi berkutik dengan ketidak warasanku berkata.

            Purnama kian nampak dengan rona merahnya, makin larut makin tenggelam dengan tingkah lakumu, menahanku untuk kembali pulang. Lampu-lampu nelayan mencari ikan menghiasi sejejeran ombak menghantam karang.
Dengan alis bertautan kemudian kamu bertanya
“Mampukah kamu setangguh karang itu Rey? Diterjang ombak dengan berbagai macam bentuk tapi ia tak ingin ke lain tempat sekeras apapun terjangan ombak, ia tetap tangguh di tempatnya”
Entah kalimat tanya atau kalimat ejekan yang kamu lontarkan padaku saat itu.
“Aku tak setangguh itu Naila. Tapi yang harus kamu tau, aku mencintaimu lebih banyak dari debar, lebih besar dari sabar, dan lebih lama dari selamanya” Dengan gagahnya aku menjawab itu.
Kamu kembali tersipu malu, lagi-lagi tak berkutik olehku. Lalu terdiam melamun di sebuah bangku panjang di tepian pantai. Dengan kaki yang tak bosan menendang-nendang pasir putih. Pandangan matamu terfokus pada satu titik di ujung lautan. Entah apa yang terlihat. Mungin perahu-perahu nelayan yang melaut, atau burung-burung yang beterbangan membelah cakrawala atau sekedar tatapan kosong dengan pikiran melayang kemana-mana. Entahlah.


Sesaat seketika pikiranmu kembali pada titik awal perbincangan
Aku takut kita berpisah, Rey  Ucapmu dengan raut wajah nampak manyun
Kau menciptakan rasa takutmu sendiri” Balasku

“Aku tak ingin kita saling membenci pada akhirnya” Nada suaramu mulai lesu

“Begini Naila, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok, lusa, dan seterusnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga apa yang kita miliki sekarang. Hingga apapun yang kita lakukan adalah bentuk upaya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Baik-baiklah dengan perasaanmu. Semoga kita tidak sedang berjudi saat mencoba peruntungan tentang permasalahan hati”

Aku selalu memikirkan pertanyaan ini, setiap kali aku merasa bahagia saat bersamamu

Ya sudah, berhentilah memikirkan hal yang membuatmu takut. Fokus saja pada hal yang membahagiakanmu

Aku takut tak siap menghadapi kehilangan

Bee.. Kau bicara apa, sih? Bahkan saat ini kau sedang bersamaku. Menikmati waktu berdua. Bersama-sama

Sebab itulah aku takut. Aku bahagia bila terus bersamamu. Aku tak ingin kehilanganmu

Aku tak bisa menjanjikan akan selalu ada. Tapi ini yang bisa aku sampaikan, aku mencintaimu dengan sungguh. Maka aku akan selalu berupaya untuk menjaga cinta yang ada di antara kita. Mengemasnya dengan baik setiap hari, agar aku bisa mencintaimu lagi dan lagi. Sebab aku tak selalu bisa membuatmu bahagia, perkenankan aku untuk selalu menemanimu bagaimanapun keadaannya

Reyhan

Ya?

Jangan pergi, ya

Hei... Aku tak pergi ke mana-mana. Aku di sini. Di sampingmu. Menjaga kamu

Tapi, Rey

Berhentilah bertapi-tapi. Jalani semuanya dengan sederhana. Enyahkan keraguanmu. Nikmati apa yang kita jalani kini. Tak perlu mempermasalahkan apa yang akan terjadi nanti. Ketakutanmu justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Mulailah untuk mencintaiku tanpa berjika-jika. Dan aku akan selalu mencintaimu tanpa tapi. Sebab yang kita lakukan adalah di waktu sekarang. Bukan nanti."

"Entahlah, Rey. Hanya saja..."

“Sudahlah Nai, diam saja, tak baik memikirkan hal seperti itu”

Sungguh, membuatmu diam jauh lebih baik dari pada harus memperdebatkan tentang perasaan. Terlebih pada hal yang tak perlu di takutkan. Sudahlah, aku telah menjadikanmu sebagai rumahku Naila, tempat aku pulang merebah lelah dan menceritakan kisah-kisahku di luar sana. Sungguh kau perempuan yang ku sayangi dengan tulus dengan segenap ganjilnya aku

Teruntuk perempuan kesayangan, Naila

--Ahran--








Jumat, 16 Oktober 2015

Sapakat Untuk Sepaket

Sore cerah
Ditemani hembusan angin bersemilir merosok di sela-sela jendela membawa aroma bahagia
Sebab tepat hari ini kau menerimaku untuk menjadi kekasihmu
Menerimaku untuk menjadi teman hidupmu, untuk mengukir cerita di tiap pijakan langkah kaki kita
Menerimaku untuk menua denganmu, hanya denganmu


Ini bukan perihal siapa yang lebih dulu hatinya di jatuhi cinta 
Tapi tentang bagaimana aku dan kamu sepakat menjadikan kita sepaket
Juga bukan perihal siapa yang terlebih dulu singgah lalu sanggah
Hatimu bukan lapangan tempat aku bermain, berlari-lari kegirangan, lalu pulang saat aku merasa senang
Sejauh manapun kakiku memijak, hatimu menjelma rumah menuju pulang, tempat aku melepas gundah dan merebah lelah


Aku berjanji akan selalu menemanimu bagaimanapun keadaannya
Menjadi  peluk yang selalu mendekap saat sendu dan sembab
Penghangat dari setiap kesedihan yang kerap kali membuat gigil
Karena hanya denganmu saja aku ingin menua
Hingga helai rambut hitam kita memutih dan badan tegap kita berubah ringkih


--Ahran--

Jumat, 11 September 2015

Catatan Akhir Sekolah

Jika saja perpisahan dan waktu adalah benang-benang tipis
Sudah pasti langsungku tepis
Agar mereka tak pernah membuat hati kita teriris
Agar kita semua tak menangis saat perpisahan kian di ujung kisah putih abu



Andai bisa
Aku ingin kembali pada tiga tahun silam
Meratap penuh harap agar masa indah ini tak pernah suram
Hingga rasa riang memupuskan rasa haru perpisahan
Layaknya anak kecil berlarian saat hujan
Menari berkecipak-kecipuk di atas tanah-tanah basah
Tertawa di guyur bola-bola hujan
Lantas ambruk di bawa genangan



Seperti embun yang menggantung di ujung daun
Seperti nuri berkicau tak henti, menjelma simfoni paling ritmis
Atau seperti hembus angin yang memasuki kisi-kisi jendela, bersemilir bersama aroma bahagia
Aku memaknai keindahan kalian seperti itu

Saat kebahagiaan kian merajai hari-hari
Perpisahan datang merobohkan kembali kebahagiaan yang tersusun apik dalam satu ruangan kelas
Ada kenangan haru serta seru di tiap sudutnya
Pondasi yang menyaksikan langsung tiga puluh dua kepala bertautan mencari jati diri
Meja yang menjadi saksi tindisan tangan-tangan calon penegak bangsa


Saat perpisahan benar-benar hadir
Hingga lisan terlampau kelu untuk mengucap keluh
Sekuat apapun aku berusaha, kebersamaan tak benar-benar mampu mentiadakan perpisahan


Perpisahan adalah skenario paling buruk
Maka inilah yang aku lakukan sekarang
Menuliskan setiap ratap kenestapaan dalam menghadapi perpisahan
Hingga pada akhirnya aku sampai pada sebuah titik kesimpulan
Bahwa ikhlas adalah sebaik-baiknya obat perpisahan




  --Ahran--

Sabtu, 01 Agustus 2015

Teruntuk Mama Bapak Yang Di Hatinya Ada Surga

Teruntuk Mama Bapak yang di hatinya ada surga
Teruntuk dua pasang tulang punggung pencetus segala kisah-kisahku
Teruntuk dua pasang tangan penopang setiaku di tiap lengan
Teruntuk dua pasang kaki, penegak sakti saat langkahku kehilangan sandi
Teruntuk dua pasang mata, penyaksi hingga aku tumbuh dewasa
Teruntuk dua pasang mulut, penggerutu saat aku tak bermutu



          Aku ingin sedikit bercerita kepada dunia, betapa bangganya aku lahir dan dibesarkan dari dua pasang surga berjalan. Di kerak menjadi dewasa hingga menemukan arti jati diri, di topang saat jatuh hingga bisa jalan sendiri.


Di ajari mencintai perempuan setulus hati 
Di ajari membahu teman tanpa perlu menyeleksi.
Di ajari menahan lapar melanda tengah malam
Di ajari menahan beku tubuh saat hujan mendekap dengan dingin paling gigil
Di ajari menahan dahaga kerongkongan saat matahari menyengat dan membakar
Di ajari menahan pening mengetuk kepala saat datang ujian demi ujian
Di ajari melipat tangis dengan tasbih


Untuk setiap beban berat yang kalian pikul
Untuk setiap derat langkah penuh do'a
Untuk setiap rinai air mata berderai dari kedua pasang pelupuk mata
Untuk setiap ketulusan mencari nafkah di terik matahri, di tiap kelas menghadapi bagai macam murid
Untuk setiap bakar semangat yang kalian kobarkan di nadiku
Untuk setiap langkah kaki yang gopah menapak tilasi
Untuk setiap syukur yang meninggi meski hidup kian lemur
Untuk setiap gelak gemetar bibir kalian saat berkata "Maaf nak, sabarlah dulu. Belum ada uang jajan untukmu hari ini"
Untuk setiap hal yang Mama Bapak perjuangkan untukku

Percayalah, aku mencintai kalian dengan sungguh-sungguh
Dengan do'a yang menggebu-gebu
Dengan lantunan shalawat ritmis yang syahdu

Inginku persembahkan kepada kalian
Masa depan yang sukses
Dari jerih upaya serta derai doa Mama Bapak
Bukan untuk apa-apa
Selain ingin membuat kalian bahagia
Saat kalian berteriak bangga kepada siapa saja "Perkenalkan, ini anak saya"

#Panjang umur, Mama Bapak


--Ahrann--

Kamis, 30 Juli 2015

Kisah Puitis

Selamat senja Naila Riska Anggraini


        Sekarang aku ingin sedikit mengulas kembali kisah puitisku bersamamu, agar kita tak pernah bosan berjalan beriringan, agar apa yang kita impikan benar-benar nyata. 
Masihkah kau ingat dengan senja yang kian termaung menyaksikan kita bercengkrama melepas gundah di atas gedung sekolah yang setengah jadi itu? Seolah-olah senja terlihat cemburu denganmu yang begituku dendangkan.
"Serasa semesta milik berdua" ucapmu sambil merayu. Meski sampai hari ini belum ada kata sepakat darimu untuk menjadikan kita sepaket. Tak apa, karna status tak menjamin kita sampai ke palamin.
Yang terpenting aku dan kamu tetap sapakat menjalin komitmen, saling menjaga hati satu sama lain.
Sebab aku mencintaimu lebih banyak dari debar, lebih besar dari sabar, lebih lama dari selamanya. Pun kamu begitu


          Tak terasa senja makin tenggelam di ufuk barat, garis-garis magenta terbias di antara langit jingga berpadu biru. Dan kita masih saling bercengkrama di sudut tembok sekolah. Menikmati setiap detik waktu dalam menghantarkan matahari terbenam. Di tingkahi hembus angin sore memainkan setiap helai rambut yang jatuh tergerai menutupi dahi. 
"Aku ibarat senja itu, datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia, Tak pernah lupa untuk kembali keesokan hari meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari" Kataku dengan getir. 
Kamu tersenyum merebahkan kepala pada bahuku yang tegap. Kemudian kita saling bergenggam erat. Aku cinta kamu, sesederhana kamu mencintaiku.


             
             Hingga tiba saatnya pulang
Kita jalan menuruni anak tangga sambil bergenggam tangan, tertawa lepas serta usapan di kepala. Semua terasa menyenangkan denganmu, tak tau waktu hingga lupa batas diri. Mengantarmu kembali pulang ke rumah agar dapat memastikanmu pulang dengan selamat. Selapasnya aku yang kembali pulang, menghitung kembali sajak-sajak kita tiap derat langkah tadinya.

           Tuhanku yang maha cinta.
Bila cinta ini adalah sesuatu yang kau kehendaki,
maka jaga kami.
Biarkan kebahagiaan mengetuk pintu-pintu hati.
Hingga hilang desak yang sesugukan sesak.
Perkenankan kami bahagia dalam kebarsamaan tanpa sekat.


--Ahran--

Senin, 27 Juli 2015

Sepasang Perindu

       Mungkin bagi sebagian orang menjalani hubungan cinta jarak jauh hanya buang-buang waktu saja. Tapi ada beberapa orang memilih tetap bersama meski ada ribuan kilometer jarak yang memisahkan. Jarak bukan tolak ukur kebahagiaan, meski rasa perih merindu tak tertahan.
Memang menjalani hubungan pacaran jarak jauh tidak ada jaminan untuk selalu utuh.
Tapi paling tidak mereka telah sama-sama berusaha memeluk erat rindu yang kian mengkarat.
Tak usah sesalkan jarak, ini hanya bagian dari rencana Tuhan agar kalian paham memiliki tak harus selalu saling beregenggam tangan, juga bukan soal peluk-memeluk semata, tapi bagaimana cara melatih rindu yang kian tertatih. Kelak, akan ada hari dimana kalian hanya berkisar satu dengusan nafas.


       Tak usah tergoda dengan mereka yang bermesraan dengan kekasihnya di taman bunga.
Percayalah ada seseorang yang hatinya berbunga-bunga menunggumu memangkas jarak.
Langit nampak menurunkan gerimis dengan melodi ritmis.
Berharap dia datang memeluk dari belakang, mungkin akan terasa manis.
Kenapa rindu bisa menjaga hubungan? Sebab hanya rasa rindulah menjadi alasan untuk mengupayakan pertemuan. Tak ada hal yang paling membahagiakan dari sepasang perindu selain ketika mereka tau bahwa mereka saling merindukan. Jarak adalah jeda sekat yang di persiapkan Tuhan untuk diisi dengan doa-doa.


       Cinta berjarak tak pernah mudah. Sekali lengah rindu bisa begitu telak membuat jenguh.
Tapi bukan berarti kalian harus menyerah. Kenyataannya bahwa akan ada sua istimewa dengan kalian yang menjaga setia. Tak apa, jarak tak akan memisahkan kalian selamanya.
Akan tetap ada waktu dimana kalian memangkas sejauh apapun jarak itu. Kembali berbagi hangat canda tawa, saling memeluk erat-erat tanpa takut terjerat

        Tetaplah bersabar dalam menanti temu. Karna jika salah satu dari kalian terhasrat menuai rindu, akan ada bagian yang menjadi abu.
Bukankah jarak hanya persoalan pada angka-angka peta saja?
Mencintailah dalam dekat-dalam jarak, dalam lekat-dalam sekat

        Biarlah sesekali jarak membuat kalian jauh, agar dapat mengutuh sesak rindu yang runtuh.
Rindu begitu mudah mengundang kenangan, sesekali tertawalah mengingatnya, selepasnya hanya ada rasa getir. Mengetahui bahwa hal itu tak dapat terulang kembali. Lalu membentuk bulir-bulir bening dari kelopak mata, membentuk dua aliran sungai membasahi pipi. Hingga resah dalam ridu berkesudahan

Untuk kalian yang terpisahkan jarak,
Bersabarlah ini hanya sementara


--Ahran--