Total Tayangan Halaman

Kamis, 30 Juli 2015

Kisah Puitis

Selamat senja Naila Riska Anggraini


        Sekarang aku ingin sedikit mengulas kembali kisah puitisku bersamamu, agar kita tak pernah bosan berjalan beriringan, agar apa yang kita impikan benar-benar nyata. 
Masihkah kau ingat dengan senja yang kian termaung menyaksikan kita bercengkrama melepas gundah di atas gedung sekolah yang setengah jadi itu? Seolah-olah senja terlihat cemburu denganmu yang begituku dendangkan.
"Serasa semesta milik berdua" ucapmu sambil merayu. Meski sampai hari ini belum ada kata sepakat darimu untuk menjadikan kita sepaket. Tak apa, karna status tak menjamin kita sampai ke palamin.
Yang terpenting aku dan kamu tetap sapakat menjalin komitmen, saling menjaga hati satu sama lain.
Sebab aku mencintaimu lebih banyak dari debar, lebih besar dari sabar, lebih lama dari selamanya. Pun kamu begitu


          Tak terasa senja makin tenggelam di ufuk barat, garis-garis magenta terbias di antara langit jingga berpadu biru. Dan kita masih saling bercengkrama di sudut tembok sekolah. Menikmati setiap detik waktu dalam menghantarkan matahari terbenam. Di tingkahi hembus angin sore memainkan setiap helai rambut yang jatuh tergerai menutupi dahi. 
"Aku ibarat senja itu, datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia, Tak pernah lupa untuk kembali keesokan hari meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari" Kataku dengan getir. 
Kamu tersenyum merebahkan kepala pada bahuku yang tegap. Kemudian kita saling bergenggam erat. Aku cinta kamu, sesederhana kamu mencintaiku.


             
             Hingga tiba saatnya pulang
Kita jalan menuruni anak tangga sambil bergenggam tangan, tertawa lepas serta usapan di kepala. Semua terasa menyenangkan denganmu, tak tau waktu hingga lupa batas diri. Mengantarmu kembali pulang ke rumah agar dapat memastikanmu pulang dengan selamat. Selapasnya aku yang kembali pulang, menghitung kembali sajak-sajak kita tiap derat langkah tadinya.

           Tuhanku yang maha cinta.
Bila cinta ini adalah sesuatu yang kau kehendaki,
maka jaga kami.
Biarkan kebahagiaan mengetuk pintu-pintu hati.
Hingga hilang desak yang sesugukan sesak.
Perkenankan kami bahagia dalam kebarsamaan tanpa sekat.


--Ahran--

Senin, 27 Juli 2015

Sepasang Perindu

       Mungkin bagi sebagian orang menjalani hubungan cinta jarak jauh hanya buang-buang waktu saja. Tapi ada beberapa orang memilih tetap bersama meski ada ribuan kilometer jarak yang memisahkan. Jarak bukan tolak ukur kebahagiaan, meski rasa perih merindu tak tertahan.
Memang menjalani hubungan pacaran jarak jauh tidak ada jaminan untuk selalu utuh.
Tapi paling tidak mereka telah sama-sama berusaha memeluk erat rindu yang kian mengkarat.
Tak usah sesalkan jarak, ini hanya bagian dari rencana Tuhan agar kalian paham memiliki tak harus selalu saling beregenggam tangan, juga bukan soal peluk-memeluk semata, tapi bagaimana cara melatih rindu yang kian tertatih. Kelak, akan ada hari dimana kalian hanya berkisar satu dengusan nafas.


       Tak usah tergoda dengan mereka yang bermesraan dengan kekasihnya di taman bunga.
Percayalah ada seseorang yang hatinya berbunga-bunga menunggumu memangkas jarak.
Langit nampak menurunkan gerimis dengan melodi ritmis.
Berharap dia datang memeluk dari belakang, mungkin akan terasa manis.
Kenapa rindu bisa menjaga hubungan? Sebab hanya rasa rindulah menjadi alasan untuk mengupayakan pertemuan. Tak ada hal yang paling membahagiakan dari sepasang perindu selain ketika mereka tau bahwa mereka saling merindukan. Jarak adalah jeda sekat yang di persiapkan Tuhan untuk diisi dengan doa-doa.


       Cinta berjarak tak pernah mudah. Sekali lengah rindu bisa begitu telak membuat jenguh.
Tapi bukan berarti kalian harus menyerah. Kenyataannya bahwa akan ada sua istimewa dengan kalian yang menjaga setia. Tak apa, jarak tak akan memisahkan kalian selamanya.
Akan tetap ada waktu dimana kalian memangkas sejauh apapun jarak itu. Kembali berbagi hangat canda tawa, saling memeluk erat-erat tanpa takut terjerat

        Tetaplah bersabar dalam menanti temu. Karna jika salah satu dari kalian terhasrat menuai rindu, akan ada bagian yang menjadi abu.
Bukankah jarak hanya persoalan pada angka-angka peta saja?
Mencintailah dalam dekat-dalam jarak, dalam lekat-dalam sekat

        Biarlah sesekali jarak membuat kalian jauh, agar dapat mengutuh sesak rindu yang runtuh.
Rindu begitu mudah mengundang kenangan, sesekali tertawalah mengingatnya, selepasnya hanya ada rasa getir. Mengetahui bahwa hal itu tak dapat terulang kembali. Lalu membentuk bulir-bulir bening dari kelopak mata, membentuk dua aliran sungai membasahi pipi. Hingga resah dalam ridu berkesudahan

Untuk kalian yang terpisahkan jarak,
Bersabarlah ini hanya sementara


--Ahran--

Minggu, 26 Juli 2015

Cinta Itu Apa

Cinta itu apa? Tanyaku pada malam yang kian beranjak menyelimuti angin.
Cinta sedingin itukah

Cintu itu apa? Tanyaku pada seorang anak yang kehilangan tempat berteduhnya.
Cinta seharu itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada senja-senja yang kini lebih rapuh.
Cinta sepekat itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada bantal peluk yang tak terganti.
Cinta senyaman itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada perahu-perahu yang di terjang ombak.
Cinta sekokoh itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada bayangan-bayangan yang meninggalkanku dalam gelap.
Cinta setega itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada mentari yang tak pernah meninggalkan pagi.
Cinta sesetia itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada pohon-pohon yang kini gugur.
Cinta segersangsang itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada si bisu yang berusaha menjelaskan sesuatu pada si buta.
Cinta sesulit itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada embun-embun yang tak nampak.
Cinta sepolos itukah

Cinta itu apa? Tanyaku pada diri sendiri yang tak pernah tau pasti.
Cinta sebingung inikah


Sampai pada hari ini aku belum mengerti cinta itu apa


--Ahran--

Inspirasi

Bukan malam namanya kalau tanpa bintang
Bukan hidup namanya kalau tanpa inspirasi
Bahkan saat jemariku mulai berirama dalam lantunan tiap kata, itu semua butuh inspirasi, yang jelas inspirasiku adalah kamu, seseorang yang ku candu lugu.
Malam selalu saja hadirkan angin mencela masuk ke dalam rusuk tapi secangkir kopi adalah penawar bagi segala yang rusak.
Ada rasa kedamaian tiap suguhan kopi yang ku minum
Semakin larut-semakin candu
Bagaimana kalau nantinya inspirasiku hanya secangkir kopi, bukan kamu lagi? 
Ah sudahlah
Semua terserah padamu, jika kau pergi lalu memilih yang lain. 
Aku tetap terpangku di sudut ini, di temani barisan-barisan gelas terisi ampas kopi lalu menyaksikanmu pergi.
Bukan karna aku tak mencintaimu lagi, hanya saja kau terlalu indah untukku bawa mati
Biarlah secangkir kopi yang setia menemani walau kita tak lagi saling memahami


--Ahran--


Sabtu, 25 Juli 2015

Hatiku Sudah Terlalu Candu

        Aku tak pernah menyalahkanmu, hanya saja mengapa hati ini kau biarkan ambruk, padahal aku tak pernah memberimu remuk. "Kita hanya sebatas teman" ucapmu lirih, namun terasa perih.
Sesaat setelah itu aku tertegun menatapmu, mencoba kembali menguatkan hati meski kita tak pernah sehati. Membangun kembali sekeping hati yang tak lagi berpondasi. Meskipun pada kenyataannya yang jatuh tak selalu berakhir utuh. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya di hati, meski kelak aku menjadi lelaki penggerutu dan tidak sabaran, meski kelak kau adalah perempuan yang tergopah-gopah menyuguhkan kopi untukku, menua bersamaku.

        Tapi pada kenyataannya kau memang di ciptakan seperti pelangi. Begitu indah, namun sekeras apapun aku mencoba meraihmu, kamu tak akan mampu ku gapai.
Ini terasa tak waras, orang yang membuatku bangun dari kisah masalalu, teryanyata hanya ingin aku berlalu, seiring berjalannya waktu

       
        Aku lelaki, jelas aku lebih kuat darimu, meski tetap saja di hadapanmu aku terlihat lemah, bagai manusia yang kehilangan dunianya. Banyak orang yang bilang; cara membuat seseorang jatuh cinta adalah membuatnya tertawa. Tapi justru malah aku yang jatuh cinta saat melihat kamu tertawa.
Segala cara membuatmu jatuh cinta tak pernah mempan, entah karna aku yang kurang tampan, juga bukan golongan hartawan, atau karna kamu yang terlalu menawan. Coba pikir baik-baik. Aku adalah orang yang selalu mendengarkan keluh-kesahmu saat seluruh dunia menyudutkanmu.
Aku adalah orang yang tak pernah lunglai saat tangis sedu-sedanmu tak lagi tertampung. Sadarilah, kamu terlalu indah untuk berair mata. Tetaplah tersenyum dengan cara sederhana dan hiduplah untuk bahagia


        Seiring senja berganti bulan, perlahan-lahan hati semakin membaik, tapi tak pernah lupa pada siapa hati pernah terjatuh dan terbalik. Pada siapa hati pernah berjuang bersikeras tapi tak pernah di hargai. Hey!! Berjuang tak sebercanda itu, hanya saja hatiku yang sudah terlalu candu akan hal itu.
Apa ada yang salah dengan aku yang terlalu memperjuangkanmu?

         Aku sudah berusaha membencimu, melupakanmu, melangkah pergi dari kamu yang tak pernah menghargai hati, tapi aku gagal. Wajah dan senyummu di takdirkan terekam abadi di ingatan. Bukan bakatku untuk melupakan, aku terlahir untuk berjuang. Karna sampai kapanpun kamu takan pernah tau seindah apa kamu di hati ini. Beri aku kabar tentang jalan lain menuju hatimu
         Mungkin tanpa sepengetahuanmu, aku selalu mengesahkanmu di hadapan Tuhan. Aku bukan lelaki yang berani menerjang samudera cinta yang luas. Aku hanya sebuah ironi bisu yang berusaha masuk dalam elegi hatimu. Tapi tolong hitung perjuanganku, karna selanjutnya tangisan sedu-sedanmu bukan denganku lagi. Teruntukmu yang ku cintai sepenuh hati



--Ahran--

Seseorang Yang Ku Sebut Surga

 Ibu
        Aku sayang ibuku, karna hanya kata terima kasih tak mampu mengalahkan rasa suci kasihnya padaku. Karena yang ku tau mengandung dan melahirkan adalah sebaik-baiknya kasih sayang.
Kasihmu tak pernah dangkal, padahal selalu saja anakmu ini bersifat jengkel. Sayangmu tak terbendung, padahal tak jarang anakmu ini membuat hatimu mendung
 
         Aku buah hatimu, sebongkah daging yang kau keluarkan dengan susah payah di rahimmu. Bahkan saat aku sebesar ini pun masih saja menyusahkanmu, aku anak yang payah memang.
Bu, mungkin saat jemarimu tak mampu merangkulku lagi, setidaknya tiada henti ku berdoa pada Tuhan tuk selalu melindungimu dengan tangan misteriusNya



          Aku pernah bertanya pada ibu "Apa benar surga itu ada?". Tanpa pernah menyadari bahwa ibu lah surga itu sendiri

       
          Entah apa yang ada di benaknya saat anak terkasihnya ini jarang pulang, menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang yang tak sejernih kasihnya. Kalau saja boleh memilih, aku lebih memilih tetap menjadi sebongkah daging di janinmu, menetap di janinmu selamanya, merasakan hangat napas yang tak sedingin lautan lepas, menamani tiap panas dingin tubuhmu. Tanpa perlu keluar dan mengenal apa itu dunia, agar aku tak pernah jauh dari surgaku

          Untukmu seseorang yang ku sebut surga
          Untukmu seseorang yang ayah sebut cinta

Tetaplah menjadi alarm di tiap hidupku
Tataplah menjadi tempatku mengadu kisah
Tetaplah menjadi tempatku berteduh dari hujan, malam dingin, atau saat ku tak puya tujuan


Terimakasih yang tak terhingga untukmu; surgaku
Dariku; buah khuldimu



--Ahran--

Tentang Perempuan Yang Tak Pernah Pergi Dari Ingatan

Ini tentang perempuan yang meneduhkan, tentang perempuan yang tak pernah pergi dari ingatan. Meski berkali-kali ku coba hilangkan, meski berkali-kali ku coba menghilang. Aku mengenalnya lewat jutaan nama yang teracak dalam dunia maya, menemukannya diantara sajak-sajak sendu yang beradu, memahami sifat-sifatnya yang terhasrat
     Tak jarang dia terlihat manja di depanku, seperti seorang anak merayu ibunya untuk di belikan mainan baru. Tapi di lain waktu, dia juga berubah menjadi perempuan yang dewasa, perempuan yang meneduhkan. Dia selalu punya lelucon yang bahkan lebih dari kata konyol, yang selalu saja jadi alasan kami mengundur waktu pulang saat berdua, tetapi waktu tak mau patuh terhadap kami, tetap saja kami yang harus mengalah dan kembali pulang. Bagiku melihatnya tertawa adalah bahagiaku seutuhnya. Dia indah dengan caranya sendiri dan dia indah tanpa alasan
     Ini masih tentang dia
Tentang seseorang yang selalu ku jadikan rumah untuk kembali pulang dan merebah lelah, saat seluruh anggota badan kelelahan menikmati indahnya ciptaan Tuhan namun tak melebihi indahnya dia. Dia adalah alasanku menjadi kuat meski tetap saja dia lah kelemahanku. Ada garis lekuk di matanya yang membuatku betah menatapnya berkali-kali dan berlama-lama, lekukan mata yang benar-benar membuatku candu
     Dia adalah spirit yang Tuhan lukiskan di kain kanvas putih polosku. Dia adalah yang pertama membuat yang kedua dan ketiga tak pernah ada, dia adalah yang terakhir dimana waktu ku harap tak pernah berakhir. Hidupku seolah-olah di sihir olehnya, dia cantik dan menawan tetapi bukan Sang Dewi
     Dia adalah seseorang yang bawel dalam hal mengomeliku saat lalai terhadap hal-hal kecil dan remeh. Seolah hidupnya tak tenang bila melihat seragam sekolahku kusut. Seolah hidupnya menjadi tak tentram bila melihat sisa makanan yang terdapat pada mulutku selasai makan. Namun tetapi dia selalu saja meneduhkan, merapikan kembali bajuku yang kusut, mengusap kembali sisa makanan di mulutku, itu salah satu hal yang membuatku tak pernah ingin jauh darinya. Dekapnya pun membuatku merasa lebih dari nyaman, membuatku merasa teduh dengan segala keteduhan yang ia punya
    Ini masih tentang dia, tentang dia yang tak pernah pergi dari ingatan. Di hatinya aku tersesat tanpa hilang arah, tau jalan keluar tapi tak ingin keluar. Isi kepalanya adalah kegembiraan hari Raya. Padanya aku layaknya anak kecil yang bahagia mengenakan baju baru di hari Raya
    Ini juga masih tentang dia. Dia adalah sosok superhero yang muncul seketika di saat aku hilang arah sendirian. Dia adalah sosok penyabar meski tak jarang tingkahku yang kelewat batas. Ia tak pernah lesu mendengarkanku bercerita. Saling menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah kami buat yang selamanya akan kami rindukan nantinya. Dia satu kata di atas sempurna, yaitu selamanya

--Ahran--