Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juli 2015

Hatiku Sudah Terlalu Candu

        Aku tak pernah menyalahkanmu, hanya saja mengapa hati ini kau biarkan ambruk, padahal aku tak pernah memberimu remuk. "Kita hanya sebatas teman" ucapmu lirih, namun terasa perih.
Sesaat setelah itu aku tertegun menatapmu, mencoba kembali menguatkan hati meski kita tak pernah sehati. Membangun kembali sekeping hati yang tak lagi berpondasi. Meskipun pada kenyataannya yang jatuh tak selalu berakhir utuh. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya di hati, meski kelak aku menjadi lelaki penggerutu dan tidak sabaran, meski kelak kau adalah perempuan yang tergopah-gopah menyuguhkan kopi untukku, menua bersamaku.

        Tapi pada kenyataannya kau memang di ciptakan seperti pelangi. Begitu indah, namun sekeras apapun aku mencoba meraihmu, kamu tak akan mampu ku gapai.
Ini terasa tak waras, orang yang membuatku bangun dari kisah masalalu, teryanyata hanya ingin aku berlalu, seiring berjalannya waktu

       
        Aku lelaki, jelas aku lebih kuat darimu, meski tetap saja di hadapanmu aku terlihat lemah, bagai manusia yang kehilangan dunianya. Banyak orang yang bilang; cara membuat seseorang jatuh cinta adalah membuatnya tertawa. Tapi justru malah aku yang jatuh cinta saat melihat kamu tertawa.
Segala cara membuatmu jatuh cinta tak pernah mempan, entah karna aku yang kurang tampan, juga bukan golongan hartawan, atau karna kamu yang terlalu menawan. Coba pikir baik-baik. Aku adalah orang yang selalu mendengarkan keluh-kesahmu saat seluruh dunia menyudutkanmu.
Aku adalah orang yang tak pernah lunglai saat tangis sedu-sedanmu tak lagi tertampung. Sadarilah, kamu terlalu indah untuk berair mata. Tetaplah tersenyum dengan cara sederhana dan hiduplah untuk bahagia


        Seiring senja berganti bulan, perlahan-lahan hati semakin membaik, tapi tak pernah lupa pada siapa hati pernah terjatuh dan terbalik. Pada siapa hati pernah berjuang bersikeras tapi tak pernah di hargai. Hey!! Berjuang tak sebercanda itu, hanya saja hatiku yang sudah terlalu candu akan hal itu.
Apa ada yang salah dengan aku yang terlalu memperjuangkanmu?

         Aku sudah berusaha membencimu, melupakanmu, melangkah pergi dari kamu yang tak pernah menghargai hati, tapi aku gagal. Wajah dan senyummu di takdirkan terekam abadi di ingatan. Bukan bakatku untuk melupakan, aku terlahir untuk berjuang. Karna sampai kapanpun kamu takan pernah tau seindah apa kamu di hati ini. Beri aku kabar tentang jalan lain menuju hatimu
         Mungkin tanpa sepengetahuanmu, aku selalu mengesahkanmu di hadapan Tuhan. Aku bukan lelaki yang berani menerjang samudera cinta yang luas. Aku hanya sebuah ironi bisu yang berusaha masuk dalam elegi hatimu. Tapi tolong hitung perjuanganku, karna selanjutnya tangisan sedu-sedanmu bukan denganku lagi. Teruntukmu yang ku cintai sepenuh hati



--Ahran--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nama :
Email :